Muslimapp News & Article

Kementerian Agama Dorong Masyarakat Untuk Menghayati Kebhinekaan

Kementerian Agama Dorong Masyarakat Untuk Menghayati Kebhinekaan

Trend intoleransi masih tinggi, tokoh agama dihimbau turut membantu menyelesaikan permasalahan intoleransi yang ada.

Benih-benih intoleransi masih sangat banyak dan trennya terus naik. Tidak hanya antar agama, sesama internal agama juga masih menggejala. Dibutuhkan peran serta tokoh agama untuk aktif terlibat mengatasi persoalan intoleransi beragama dengan mengembangkan dialog. Demikian kesimpulan yang mengemuka dalam pertemuan Rapat Koordinasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dari 10 Provinsi zona tengah di Hotel Aston Inn Semarang.

Hal itu dinyatakan oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah, KH. Taslim Syahlan ketika melaporkan tren intoleransi di Indonesia, khususnya Zona Jawa tengah di hadapan Wakil Menteri Agama, KH. Zainut Tauhid, pada sesi penutupan acara rapat rapat koordinasi dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) tersebut.


Dalam pelaporannya, Taslim mengatakan beberapa kasus sudah dapat ditangani seperti penolakan Gereja di Malangsari Tlogorejo Semarang, Gereja Ndermolo Jepara, dan saat ini masih berjalan mediasi penolakan gereja di Kabupaten Sukoharjo.


Taslim mengatakan bahwa pihaknya mendorong para tokoh agama untuk turut membantu permasalahan intoleransi yang ada. Saat ini, ujarnya, kasus penolakan gereja di Malangsari Tlogorejo Semarang dan gereja di Ndermolo Kabupaten Jepara yang sudah 19 tahun tak dapat dipakai karena ditolak warga sudah bisa diselesaikan.

"Tugas kami bersama para tokoh agama adalah mendorong terciptanya saling mendukung dalam hal kehidupan beragama secara kondusif. Seperti yang terjadi di Sukharjo itu kami FKUB menyediakan atau membantu memenuhi kekurangan legalitas dalam hal pembangunan rumah ibadah, bukan menghakimi," jelasnya.

“Lalu saat ini kami tengah menangani kasus penolakan rumah ibadah di Kabupaten Sukoharjo,” imbuh Taslim.

Wamenag KH. Zainut Tauhid mengatakan bahwa pihaknya mendorong masyarakat untuk menghayati kebhinekaan yang ada di masyarakat Indonesia dengan cara saling menghormati.

“Di dalam masyarakat yang bhineka itu dibutuhkan satu norma keagamaan yang moderat. Dalam rapat koordinasi FKUB Nasional ini kami juga melakukan evaluasi terhadap kejadian-kejadian intoleransi yang terjadi di masyarakat,” jelas Tauhid.

“Kami memberikan penekanan kepada para tokoh-tokoh agama utamanya yang tergabung dalam FKUB agar aktif mendorong dialog antar agama. Karena penyelesaian koflik umat beragama, termasuk penolakan rumah ibadah itu lebih efektif menggunakan peran tokoh agama daripada menggunakan aparat keamanan atau hukum,” tandasnya.

Mewakili peserta yang hadir dari perwakilan pengurus FKUB dari 10 provinsi , yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Jogjakarta, Bali, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah, KH  Taslim Syahlan memungkasi laporannya dengan memberikan piagam Watugong kepada KH. Zainut Tauhid sebagai simbol komitmen para tokoh lintas agama dalam menegakkan toleransi.

Piagam Watugong sendiri adalah prasasti yang ditandatangani oleh 43 organisasi keagamaan di Jawa Tengah pada bulan Oktober 2020 lalu.