Muslimapp News & Article

Investasi Saham Melalui Saham Syariah

Investasi Saham Melalui Saham Syariah

Yang menjadi pembeda antara saham kovensional dan saham syariah, menurut fatwa DSN MUI adalah penggunaan akad Bai’ Al Musawammah pada Saham Syariah

Jamak diketahui, pada pasar modal terdapat dua model saham, yaitu saham konvensional dan saham syariah. Masyarakat muslim yang berminat investasi saham perlu memahami hal tersebut agar tidak ragu ketika hendak berinvestasi saham, bahwa terdapat saham syariah yang dijamin kehalalannya.
Secara definisi, saham adalah instrumen finansial atau surat berharga yang menjadi bukti bagian kepemilikan sebuah perusahaan. Baik saham konvensional maupun saham syariah, prinsipnya sama, kepemilikan saham menunjukkan bagian kepemilikan atas suatu perusahaan. Hanya saja, saham syariah merupakan bukti kepemilikan perusahaan yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan memenuhi syarat sebagai saham syariah.
Pada saham konvensional, akad perdagangan bersifat umum tanpa mengindahkan prinsip-prinsip muamalah syariah. Sedangkan pada saham syariah, sebagaimana diatur oleh Dewan Syariah Nasional MUI , Fatwa Nomor: 80/DSN-MUI/III/2011, mekanisme perdagangan saham syariah di Bursa Efek Indonesia menggunakan akad Bai Al Musawammah, yaitu jual beli dengan lelang berkelanjutan.
Terdapat dua jenis saham syariah, yaitu saham yang berbasis syariah dan saham yang sesuai dengan prinsip syariah.
Saham yang berbasis syariah adalah saham perusahaan yang sudah menyatakan diri sebagai perusahaan syariah sejak awal berdirinya, melakukan kegiatan usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah, serta memiliki Dewan Pengawas Syariah.
Sedangkan saham yang sesuai prinsip syariah adalah saham dari suatu perusahaan yang tidak menyatakan dirinya sebagai perusahaan syariah tetapi saham ini memenuhi kriteria untuk menjadi saham syariah sebagaimana diatur oleh Peraturan OJK. Saham jenis ini harus melalui proses screening terlebih dahulu. Saham perusahaan yang telah melaui screening syariah dan dinyatakan lolos, akan masuk dalam Daftar Efek Syariah (DES) di Bursa Efek Indonesia.
Bagaimana menentukan suatu saham memenuihi kreteria saham syariah?
Dalam menentukan suatu perusahaan yang go public memenuhi kreteria memiliki saham syariah, terdapat proses screening yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI). Screening tersebut untuk melihat keterpenuhan perusahaan pada dua aspek, yaitu aspek bisnisnya (Business Screening) dan aspek keuangan (Financial Screening).
Business screening akan melihat kegiatan usaha perusahaan. Saham perusahaan yang tidak sesuia dengan dengan prinsip syariah tidak diizinkan diperdagangkan di Bursa Saham Syariah. Perusahaan rokok, Perusahaan minuman keras, perusahan pengelolaan makanan yang bahan bakunya tidak halal, bank umum konvensional, atau perusahaan asuransi konvensional pasti tidak lolos tahap screening ini.
Financial screening akan melihat fundamental keuangan perusahaan. Aturan yang diberlakukan adalah total utang berbasis bunga dibanding total aset tidak lebih dari 45 persen. Pendapatan perusahaan juga dihasilkan perusahaan dipastikan kehalalannya. Jika terdapat pendapatan nonhalal yang dimiliki perusahaan tetapi tidak melebihi 10 persen dari total pendapatan perusahaan masih bisa ditoleransi.
Jika laporan keuangan perusahaan memenuhi kriteria tersebut maka saham perusahaan tersebut akan lolos screening dan dimasukkan kedalam Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kemudian diizinkan diperdagangkan pada Bursa Saham Syariah.