Muslimapp News & Article

CARA IMAM HASAN AL-BASHRI BERTOLERANSI KEPADA NON MUSLIM

CARA IMAM HASAN AL-BASHRI BERTOLERANSI KEPADA NON MUSLIM

Imam Hasan Al-Bashri dikenal sebagai salah seorang ulama utama di kalangan generasi Tabi'in.  Beliau menjalani masa kecil di era sahabat dan berguru kepada para sahabat utama, antara lain: Utsman bin Affan, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Talib, Abu Musa Al-Asy'ari, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah dan Abdullah bin Umar. Imam Hasan menjadi guru di Basrah (Iraq), menjadi ulama panutan dan mendirikan madrasah di sana.

Di Basrah,  Imam Hasan Al-Bashri tinggal di rumah berlantai dua,  mirip rumah vertikal.  Dan puluhan tahun bertetangga dengan orang Nasrani.  Orang Nasrani tersebut tinggal di lantai bagian atas,  sementara Imam Hasan tinggal di lantai bawah.
Meskipun bertahun-tahun hidup bertetangga,  orang Nasrani itu tak pernah bertamu atau berkunjung ke rumah Imam Hasan Al-Bashri,  padahal Imam Hasan terkenal sebagai seorang yang alim dan tokoh agama.
Barulah ketika mendengar Imam Hasan Al-Bashri sakit,  orang Nasrani itu memaksakan diri mengunjunginya. Ketika bertamu itu,  ia kaget melihat baskom di samping tempat tidur Imam Hasan Al-Bashri.  Baskom itu berisi air kotor hasil menampung air yang menetes dari langit-langit rumah.  Tetesan air itu berasal dari kamar mandinya yang tepat berada di atas kamar tidur Imam Hasan.

Merasa bersalah, orang Nasrani itu segera meminta maaf. Tapi Imam Hasan Al-Bashri tersenyum arif dan berkata dengan bijak,

“Jangan pikirkan itu saudaraku. Setiap baskom itu penuh terisi air kotor,  aku tinggal membuangnya. Begitulah seterusnya. Aku sudah terbiasa dengan hal itu. Sudahlah. Jangan engkau risaukan.”

Luhur budi tercermin dari kedalaman ilmu beliau yang laksana samudera. Tak pernah menghardik tetangga,  tidak pernah protes. Beliau memuliakan tetangga dengan sesungguh-sungguhnya,  walaupun sang tetangga berbeda keyakinan.
Menghormati tetangga adalah bagian dari keimanan, tanpa memandang agama dan keyakinannya. Jika tetangga sesama muslim, akan semakin mempererat tali ukhuwah sesama muslim. Sedangkan jika tetangga adalah non muslim, akan menjadi syiar bahwa Islam begitu indah, bertoleransi kepad sesama manusia. Menghormati tetangga, memuliakan jiwa. Demikian Rasulullah SAW mengajarkan keagungan budi pribadi muslim.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ . (رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”(HR. Bukhari dan Muslim)