Muslimapp News & Article

CUKUPLAH ALLAH

CUKUPLAH ALLAH

Keputusan telah dijatuhkan. Hukuman harus segera dilakukan. Dakwaan tak bisa lagi dipungkiri. Patung-patung sesembahan yang hancur, pelakunya adalah Ibrahim. Sebagai hukumannya, tak cukup dengan hukuman penjara. Tetapi hukuman bakar diri hidup-hidup, dalam kobaran api yang membesar dan tinggi.

Untuk menjalankan eksekusi bakar hidup-hidup itu, sebuah lubang besar digali.  Di sekeliling lubang dibangun tembok tinggi.  Lalu kayu-kayu bakar dimasukkan ke dalamnya.  Kayu bakar yang ditumpuk-tumpuk yang dikumpulkan selama sebulan penuh.
Api menyalah dengan besarnya, hingga tak ada yang berani mendekat. Sehingga tak tahu bagaimana cara melempar Ibrahim ke tengah kobaran api itu. Lalu mereka membuat alat pelontar. Mereka mengikat Ibrahim ke alat pelontar dan melemparkan tubuhnya ke tengah api yang menyalah panas.
Langit,  gunung, malaikat manangis dan menjerit. Tak kuasa melihat Ibrahim sebentar lagi akan terpanggang oleh panasnya api. Mereka bersahut-sahutan menyeru :

"Duhai Allah, Tuhan kami.  Tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang menyembah-Mu kecuali Ibrahim. Ia dilemparkan ke dalam api,  maka izinkanlah kami membantunya."

Allah SWT menjawab : "Jika Ibrahim meminta tolong pada kalian,  maka tolonglah.  Aku mengizinkan kalian menolong dirinya. Tetapi,  jika dia tidak meminta tolong kepada selain Aku,  maka Aku lebih mengetahui. Akulah walinya,  maka menyingkirlah kalian dari antara Aku dan dia."

Ketika Ibrahim diikat di alat pelontar,  malaikat pengurus air mendatanginya.

 "wahai Ibrahim, jika engkau menghendaki aku bisa melenyapkan api itu dengan hembusan anginku". "Tidak.  Aku tidak membutuhkan dirimu," tegasnya.

Dan alat pelontar itu bekerja. Melemparkan tubuh Ibrahim ke udara, melayang searah gravitasi bumi menuju kobaran api yang semakin membesar. Panasnya tak terkira. Jibril melesat turun dari langit,lalu menangkap tubuh Ibrahim dengan sayapnya.

 "Salam sejahtera untukmu, wahai Ibrahim. Aku Jibril. Apakah engkau membutuhkan bantuan?"

Wajah Ibrahim bias,  lalu menjawab:

 "Meminta bantuan kepadamu? Tentu tidak"

 "Kalo begitu, mintalah kepada Tuhanmu." seru Jibril seraya melepaskan dekapannya kepada kekasih Tuhan itu.

Tubuh Ibrahim kembali melayang di udara. Meluncur cepat menuju kobaran api. Ibrahim memandang ke atas. Merapatkan tangan. Menumpuhkan harapan. Dia tidak tahu, berapa lama lagi tubuhnya akan tenggelam dilumat kobaran api. Tapi jiwanya tenang. Kalaupun harus mati,  inilah kematian yang Indah. Kematian dalam keimanan.

 "Wahai Tuhan Sesembahanku. Engkaulah satu-satunya yang aku sembah. Dan akulah satu-satunya yang menyembah-Mu. Tidak ada yang menyembah-Mu di bumi, selain Aku. Wahai Yang Esa.  Wahai Sang Tumpuhan harapan.  Dari-Mu lah aku meminta, kepada-mu aku memohon,  dan kepada-Mu aku berpasrah. Cukuplah Allah untukku. Dialah sebaik-baik Penolong.  Cukuplah Allah untukku. Tidak ada Tuhan selain Dia.  Kepada-Nyalah aku bertawakal. Dialah Tuhan Pemelihara 'Arsy Yang Maha Agung"

Ibrahim menutup matanya. Menikmati setiap detik kedekatannya dengan Rabbnya. Sesaat sebelum api melumat tubuhnya.
Mendengar doa Ibrahim, api berseru:

 "Wahai Tuhan Pemeliharaku. Engkau telah menetapkan ku untuk tunduk kepada keturunan Adam. Lalu bagaimana bisa aku membakar Nabi-Mu? "

Maka, Allah SWT pun berfirman :

 "Wahai Api. Jadilah dingin! Dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim" (QS.  Al-Anbiya' [21]: 69)